Minggu, 29 Juli 2012

cerpen galau

Bocah

Tiba-tiba aku tersadar pada sebuah kisah yang mengikatku selama bertahun-tahun. Kisah itu meski tak terungkap telah menjadi ribuan cerpen, puisi dan syair yang kutulis. Mengenangnya membuat mataku seolah nanar dan hatiku bak melambung entah dimana. Kawan, aku merindukannya.

Sahabatku adalah bocah yang suka sekali bermain diluar. Rambutnya dipotong cepak dan selalu merah karena matahari. Kulitnya putih. Posturnya kecil. Matanya agak sipit namun masih besar. Bocah selalu tersenyum padaku dengan jahil.

Masa SD ku dilalui dengan olok-olokan bocah. Olokan pertama bocah adalah mataku. Mataku bundar dan lebih besar dari anak umumnya. Suatu sore bocah tahu aku tidak bisa melirik keatas. Aku selalu menengok untuk melihat keatas. Paginya lebel "plerok" telah melekat padaku.

Bocah selalu dapat menarik perhatianku. Saat "plerok" tak lagi menarik untuk bocah. Bocah itu menjodoh-jodohkanku dengan temannya. Semua teman tertawa, aku kesal bukan main.

Saat SMP kami jarang bertemu. Kami terpisah oleh smp yang berbeda. Meski begitu kadang - kadang kami bertemu dan entah aku makin gugup saat bersama bocah.


Hari itu adalah hari penerimaan rapot terakhir di SMP. Kami bertemu dipersimpangan jalan. Saat itu aku yang telah digadang-gadang untuk melanjutkan sekolah di kota, ada kesedihan karena merasa berpisah dengan bocah. Saat itulah si bocah tersenyum, dengan tubuh yang kusadari bukan bocah lagi. Si Bocah telah tumbuh dewasa. Posturnya telah tinggi melebihiku. Kulitnya masih putih namun rambutnya lebih gelap dengan sisa merah rambutnya dulu. Dan wajahnya telah berubah menjadi lelaki tanggung. Dia bukan lagi bocah. Dia adalah lelaki tanggung yang tersenyum sangat manis padaku. Untuk pertama kali aku menyadari sesuatu telah terjadi di hatiku dan untuk pertama kali pula aku menyadari aku tlah kehilangan dirinya. Itulah terakhir kali aku bertemu dia.